Pendidikan dalam Perspektif Konvergensi Teori ini dipelopori oleh William Stern (1871-1939) – yang mengatakan bahwa anak yang dilahirkan kedunia ini telah memiliki pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Aliran ini mengatakan bahwa pengaruh proses pemkembangan manusia ditentukan pembawan dan lingkungan. (Tirtarahardja dan Selo (2005). Lebih tegas teori menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan dalam mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu. Asumsi teori ini berdasar eksperimen dari William Stern terhadap dua anak kembar. Anak kembar memiliki sifat keturunan yang sama, namun setelah dipisahkan dalam lingkungan yang berbeda anak kembar tersebut ternyata memiliki sifat yang berbeda. Dari sinilah maka teori ini menyimpulkan bahwa sifat keturunan atau pembawaan bukanlah faktor mayor yang menentukan perkembangan individu tapi turut juga disokong oleh faktor lingkungan. Faktor pembawaan manusia dalam teori ini disebut sebagai faktor endogen yang meliputi faktor kejasmanian seperti kulit putih, rambut keriting, rambut warna hitam. Selain faktor kejasmanian faktor ada juga faktor pembawaan psikologis yang disebut dengan temperamen. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak adalah keseluruhan ari sifat manusia yang namapak dalam perilaku sehari-hari sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan dan bersifat tidak konstan. Jika watak atau karakter bersifat tidak konstan maka temperamen bersifat konstan. Selain temperamen dan sifat jasmani, faktor endogen lainnya yang ada pada diri manusia adalah faktor bakat (aptitude). Aptitude adalah potensipotensi yang memungkinkan individu berkembang ke satu arah. Untuk faktor lingkunganyang dimaksud dalam teori ini disebut sebagai faktor eksogen yaitu faktor yang datang dari luar diri manusia berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang populer disebut sebagai milieu. Perbedaan antara lingkungan dengan pendidikan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan. Bila lingkungan bersifat pasif tidak memaksa bergantung pada individu apakah mau menggunakan kesempatan dan manfaat yang ada atau tidak. Sedangkan pendidikan bersifat aktif dan sistematis serta dijalankan penuh kesadaran. Hubungan Individu dengan Lingkungan Pada teori konvergensi disebutkan bahwa lingkungan memiliki peranan penting dalam perkembangan jiwa manusia. Lingkungan tersebut terbagi dalam beberapa kategori yaitu : 1. Lingkungan fisik ; berupa alam seperti keadaan alam atau keadaan tanah serta musim 2. Lingkungan sosial;berupa lingkungan tempat individu berinteraksi. Lingkungan sosial dibedakan dalam dua bentuk : - Lingkungan sosial primer:yaitu lingkungan yang anggotanya saling kenal - Lingkungan sosial sekunder: lingkungan yang hubungan anatar anggotanya bersifat longgar. Hubungan individu dengan lingkungannya ternyata memiliki hubungan timbal balik lingkungan mempengaruhi individu dan individu mempengaruhi lingkungan. Sikap individu terhadap lingkungan dapat dibagi dalam 3 kategori yaitu: 1. Individu menolak lingkungan jika tidak sesuai dengan yang ada dalam diri individu, 2. Individu menerima lingkungan jika sesuai dengan dengan yang ada dalam diri individu, 3. Individu bersikap netral atau berstaus quo. Jiwa manusia memiliki kekuatan dan kemampuan yang terdiri atas 3 golongan besar yaitu : 1. Kemampuan jiwa yang berhubungan dengan pengenalan (kognisi) 2. Kemampuan jiwa yang berhubungan dengan perasaan (emosi) 3. kemampuan jiwa yang berhubungan dengan kemauan (konasi) Kemampuan-kemampuan itulah yang digunakan oleh manusia dalam berhadapan dan berhubungan dengan lingkungannya (di dalam mapun di luar), termasuk dalam mengolah informasi yang ada pada lingkungannya yang disebut dengan stimulus